Jika bukan karena anugerah Allah SWT, berupa Bulan Ramadhan dan ibadah-ibadah yang ada di dalamnya, ummat Islam pastilah kalah dibandingkan ummat-ummat Nabi dan Rasul Allah terdahulu. Mengapa demikian? Salah satu alasannya adalah karena secara fisik maupun biologis, ummat Islam sebagai ummat akhir zaman tidak dianugerahi karunia ketahanan fisik yang lebih baik dari ummat-ummat terdahulu. Ummat Islam relatif memiliki jangkauan usia yang lebih pendek, sehingga pengabdian kepada Allah SWT dalam wujud amal ibadah yang dilakukan ummat Islam menjadi lebih sedikit. Rasullullah Saw saja diberi anugerah usia hanya sampai dengan 63 tahun, dibandingkan dengan Nabi Nuh As yang berdakwah selama 950 tahun kepada ummat beliau (QS Al-‘Ankabut [29] : 14). Padahal sebagai ummat akhir zaman ummat Islam merupakan ummat terbaik dengan tugas yang tidak ringan dalam mengemban dakwah ilahi dan menjaganya sampai hari pembalasan tiba. Anugerah Allah berupa bulan suci Ramadhan inilah yang menjadi salah satu berkah terbesar bagi ummat islam untuk mengejar ketertinggalannya. Melalui ibadah di bulan yang di dalamnya terdapat malam yang senilai dengan seribu bulan (lailatul qadar), ummat islam memiliki kapasitas amalan yang tidak kalah jika dibadingkan ummat para nabi sebelum Nabi Muhammad Saw. Di dalam bulan Ramadhan inilah, nilai amalan dilipat gandakan oleh Allah SWT bagi seluruh ummat islam yang mencari keridhoaan-Nya dengan berpuasa dan melaksanakan ibadah sunnah lainnya. Langit diperintahkan oleh-Nya untuk berhias, pintu surga dibuka lebar-lebar dan pintu neraka ditutup rapat-rapat. Setan pun bahkan dibelenggu agar manusia lebih mampu melaksanakan amal ibadah secara sempurna menggapai ampunan-Nya. Dalam suatu hadits bahkan Rasulullah Saw menyebutkan bahwa sepertiga Ramadhan yang awal adalah waktu rahmat Allah bagi hamba-Nya, sepertiga kedua merupakan ampunan dan sepertiga terakhir merupakan pembebasan dari siksa api neraka.
Maka tak mengherankan jika bulan Ramadhan kemudian menjadi bulan pertaubatan ummat islam. Seluruh mukmin seolah berlomba menjadi yang terdepan dalam mencari ampunan ilahi melalui aneka ibadah mahdhah berupa shalat dan puasa yang dilengkapi dengan ibadah sunnah yang meliputi qiyamul lail dalam bentuk shalat tarawih, witir, maupun tadarus dan baca al-qur’an. Tidak cukup di situ, bulan Ramadhan juga menjadi wahana pensucian hati dan jiwa dengan melaksanakan i’tikaf yang dengannya seorang hamba menjadi lebih dekat dengan sang Khalik. Bertaqarub dengan-Nya memang memberikan kedamaian hati yang Al-Qur’an menyebutnya sebagi penenang hati (QS Ar-Ra’du [13] : 30). Dan bukankah keheningan dan ketenangan hati ini merupakan barang mahal dalam kehidupan dunia ini. Membangun Kesadaran Sosial Ummat Tidak sekedar itu bulan ramadhan yang dilalui oleh seluruh ummat islam dunia ini juga memiliki arti penting bagi pembangunan kesadaran sosial. Kesadaran sosial tersebut antara lain dibangun lewat ibadah puasa sebagai ibadah sentral di bulan Ramadhan itu sendiri. Puasa mengajarkan kepada kita bagaimana sebagian besar manusia hidup dalam keadaan susah. Kesusahan itu terbentuk oleh keadaan sosial yang jauh dari kecukupan. Sehingga sekelompok manusia yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut dengan dhuafa’ tersebut tidak dapat menikmati apa yang menjadi kelayakan hidup bagi orang lain. Mereka ini yang setiap harinya tidak makan bukan karena keinginan mereka berpuasa, melainkan karena ketidakmampuan memperoleh sesuap nasi. Mereka inilah yang menjadi lemah di tengah manusia lainnya, hidup tertindas di tengah kemegahan dan kemewahan hidup saudara-saudaranya. Dengan merasakan penderitaan para dhuafa’, fuqara’, dan masakin inilah, puasa dirancang sebagai pondasi pembagunan kesadaran sosial universal ummat islam. Ummat Islam diajarkan pada sebuah pola hidup yang penuh dengan kedermawanan dan kesantunan terhadap orang lain yang membutuhkan. Karena diakui atau tidak sebagian besar ummat islam di negeri ini, bahkan dibeberapa negara lain masih berada di bawah garis batas kemiskinan. Meskipun saudara-saudaranya merupakan kelompok masyarakat yang sejahtera. Dalam kerangka pemikiran demikian inilah, islam sangat tegas melarang perbuatan yang tidak terpuji kepada orang miskin maupun anak yatim yang lemah kedudukannya di masyarakat. Bahkan dalam skala yang lebih ekstrim kepedulian terhadap orang lain yang membutuhkan ini dimasukkan ke dalam kelompok kebajikan utama dari ajaran islam. Dan Allah SWT melalui firman-Nya secara tegas mengutuk mereka yang secara sengaja membuat penderitaan orang lain semakin bertambah dengan melarang memberi makanan orang miskin ataupun menghardik anak yatim. “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS Al-Maa’uun [107] : 1-3). Kedermawanan yang diajarkan oleh syari’at islam dalam rangkaian ibadah Ramadhan ini meliputi shadaqah, memberi makan orang yang berpuasa, menyantuni anak yatim, dan disempurnakan dengan zakat fitrah sebagai tahapan penutup ibadah Ramadhan. Shadaqah merupakan pemberian kepada mereka yang membutuhkan semata-mata karena mengharapkan ridho-Nya. Tidak hanya berupa makanan, tetapi juga bantuan lain yang membantu mereka mengurangi penderitaan hidup. Karena dalam kenyataan hidup sehari-hari sebenarnya banyak masyarakat tidak mampu yang jatuh ke dalam lingkungan kejahatan semata-mata oleh lekatnya lingkaran kemiskinan dalam pola hidupnya. Demikian juga dengan anak-anak yatim yang menjadi lemah dan tak berdaya akibat ketiadaan orang tua yang menjaga, mendidik, dan mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada mereka. Lewat ibadah sosial yang berwujud kedermawanan semacam ini, dapat kita lihat gambaran ideal ummat yang diinginkan oleh ajaran islam. Konsep keadilan dalam distribusi kepemilikan menjadi lebih baik dan tidak sekedar dimonopoli pihak yang memang telah hidup dalam keadaan berkecukupan. Supaya harta itu jangan hanya beredar antara orang-orang kaya di antara kamu (QS Al-Hasyr [59] : 7). Setiap orang yang lemah mendapat santunan, setiap yang kekurangan mendapat pertolongan, dan yang mengalami pederitaan diberi kasih sayang. Jika saja pola kebajikan semacam ini dapat bertahan di luar bulan suci nan mulia ini, niscaya ummat islam mampu secara mandiri membangun harga diri dan kejayaan agamanya. Akan lebih banyak masyarakat tertinggal yang bisa dientaskan untuk mengurangi tingkat kriminalitas berlatarbelakang ekonomi dan sosial. Sehingga pembangunan di wilayah negara-negara islam yang relatif miskin tidak lagi tergantung apalagi meminta bantuan orang lain yang niatnya belum tentu sesuai dengan semangat syari’at. Membuka Gerbang Ampunan Ilahi Dengan semangat Ramadhan dan ajaran kedermawanan dalam Islam inilah kita melengkapi ibadah puasa kita. Tidak sekedar berpuasa dengan menahan lapar, dahaga, nafsu syahwat, dan hal lain yang membatalkan saja, melainkan juga dengan membantu orang lain yang memang membutuhkan. Bagi kita ummat islam memberi orang lain di bulan Ramadhan ini juga memberikan tambahan ibadah yang luar biasa. Karena sebagaimana disabdakan Nabi Saw bahwa memberi makan (buka puasa) bagi orang lain adalah sama dengan memperoleh pahala puasa orang tersebut. Tanpa pengurangan sedikit pun dari pahala yang melaksanakannya. Sehingga pada akhirnya kita mampu memperoleh pahala yang sempurna dari ibadah-ibadah kita di bulan ramadhan kali ini. Membuka gerbang-gerbang ampunan ilahi yang senantiasa terbuka bagi setiap hamba yang mau sadar dan menyesali perbuatan dosanya. Untuk kemudian menjadi seorang muslim yang memperoleh derajat ketakwaan yang tinggi sebagaimana menjadi maksud utama pensyari’atan ibadah puasa dalam firman-Nya “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah [2] : 183). Dan predikat fitri yang berarti bersih kembali dari noda dan dosa setelah selesai berpuasa di bulan ramadhan benar-benar kita peroleh. Kefitrahan yang berasal dari perbuatan tulus demi mecapai ridho-Nya lewat aneka amalan yang menjadi kesenangan-Nya. Sesuai dengan sabda Nabi Saw : “Barang siap yang berpuasa Ramadhan dengan hati yang dipenuhi iman dan hanya menharapkan ridho dari Allah, maka segala dosa dan kesalahanya yang telah lampau akan diampuni.” Akhirnya hanya kepada Allah lah kita meminta agar usia kita diberkahi sehingga mampu melaksanakan seluruh kewajiban kita di bulan yang dinanti-nantikan ini, secara maksimal dengan penuh keikhlasan agar kita berhasil memenangi perjuangan berat untuk kemudian menjadi hambanya yang bertkawa. Amin. Wa Allahu A’lam. Yuli Andriansyah Mahasiswa IESP FE UII Staf Lembaga Kajian Ilmu dan Pengembangan Masyarakat (eLKIM) Santri Pondok Pesantren UII
Post a Comment